Minggu, 25 Desember 2016

LSM Reformasi Berharap Penangan Kasus Tahanan Narkoba Yang Lepas Cepat Tertangkap





 Hasil gambar untuk tahanan poldasu yang kabur

Medan (IBO)
Rahmad Ginting sangat berharap Kapoldasu menganti Dirnarkoba Poldasu karena sampai hari dari 11 tahanan poldasu yang kabur baru 3 orang tertangkap kata ketua LSM Reformasi baru baru ini dikantornya.Lambatnya penangan kasus ini bisa menambah buruknya citra Poldasu yang dalam beberapa tahun ini sudah mulai terangkat dimata masyarakat
Apalagi  tim khusus yang dibentuk Polda Sumut dari beberapa satuan kerja (satker) sampai hari ini hanya  bisa menangkap kembali tiga tahanan kasus narkoba yang kabur itu.Pada hal  Perburuan dilakukan hingga keluar Provinsi Sumatera Utara. Apalagi tim khusus terdiri dari anggota Direktorat (Dit) Intelkam Poldasu, Dit Reskrimum dan Dit Narkoba walaupun ada yang ditangkap tapi hasilnya kurang memuaskan kata Rahmad Ginting  ketua LSM Reformasi
Menanggapi kurang cepatnya kasus ini terungkap LSM Reformasi menilai “kalau saya salah saya salah mohom maaf  kelalaian tersebut tidak lepas dari tanggung jawab Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Edy Iswanto.Bukankah sel (11 tahanan kabur) itu berada di gedung Dit Narkoba, Direktur Narkoba-nya mau tidak mau suka tidak suka Nirnarkoba Poldasu harus bertanggung jawab”kata Rahmad Ginting
“Sekarang ini sudah akhir bulan Desembar  para tahanan kabur itu belum juga berhasil ditangkap seluruhnya, maka masalah kelalaian dan kecerobohan para petugas di Dirnarkoba siapa yang bertangung jawab pastilah Bapak Dirnarkoba apa yang bertanggung jawabhanya bawahannya”
Saat ini, 8 lagi tahanan kabur masih berkeliaran dan sedang dalam pengejaran. Mereka adalah, Syarifuddin (43), warga Jalan Pambon Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan, pernah ditangkap pada 9 Mei, Suhermanto (25) warga Gang Tengah Trangon Kabupaten Gayo Lues, Aceh, ditangkap 16 April, Busra (38) warga Desa Paya Rabo Kecamatan Sawang Aceh Utara, ditangkap 12 Mei.
Yudhi Kurniawan (26), warga Jalan Flores No 10 Linkungan II, Kelurahan Kebun Lada Binjai, ditangkap 17 Mei, Abdullah (37) warga Jalan Pulau Rupat, Linkungan IX Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan, ditangkap 13 Mei.
Kemudian, Teddy Sugara (39) warga Jalan Pancasila Gang Keluarga No 9 Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai, ditangkap 18 Mei, Suliyadi (33) warga Dusun Kelapa Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Sergai, ditangkap 10 Mei, Herijal (24) warga Dusun Mangga II, Desa Uyem Beriring Kecamatan Tripe Jaya Kabupaten Gayo Lues, ditangkap 18 April.(Pansi)

Sabtu, 03 Desember 2016

Di PTPN 4 Ada proyek dikerjakan dengan tanda tangan palsu






Medan (IB))
Sebuah keanehan atau keganjilan bila tanda-tangan seorang Direksi di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipalsukan terkait beberapa proyek pekerjaan di BUMN itu tapi tidak dilaporkan oleh si Direksi kepada pihak berwenang. Apalagi pemalsuan itu terkait soal proyek sekitar Rp 3,2 miliar. Dan yang membuat semakin aneh, pada akhirnya yang mengadu ke pihak kepolisian adalah pekerja yang telah dirugikan oleh BUMN itu.
Hal ini terjadi di PT Perkebunan Nusantara (Persero) 4 (PTPN4) dimana pada bulan Agustus 2014, Amru Hasibuan, mendapat proyek pekerjaan sebanyak empat paket dari adik Erwin Nasution, Direktur Utama PTPN 4, yang dikenal dengan panggilan Pak Ecen. Untuk modal pekerjaan ini, Amru Hasibuan mengajukan pinjaman ke Bank Sumut dimana pada bulan November 2014 pinjaman akan dicairkan dengan menganggunkan aset berupa surat tanah milik Donax Farabian Silalahi. Namun karena surat tanah Donax pada saat itu hilang, pinjaman tidak jadi dicairkan Bank Sumut.
Pernyataan ini diungkap oleh Tongam Siregar, Ketua LSM SAKTI Sumut, yang mengaku sebagai pendamping Muhammad Yusuf, pekerja yang telah melaporkan Donax Farabian Silalahi ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) dengan Surat Tanda Terima Lapor Polisi nomor STTLP/935/VII/2016/SPKT"II" tanggal 20 Juli 2016, kepada media, di Medan, Kamis (22/09/2016) lalu.
Selain itu, Tongam juga mengancam kalau hal ini tidak diselesaikan oleh PTPN IV, organisasinya akan mendemo kantor pusat PTPN IV.
Tatkala permasalahan ini dikonfirmasi kepada Sahrul Siregar, Humas PTPN IV, melalui ponselnya, ia menyebut kalau PTPN IV tidak punya masalah dengan orang yang telah membuat pengaduan itu. "PTPN IV tidak punya masalah dengan mereka. Silahkan saja mereka demo bang. Kami juga sudah diperiksa Poldasu terkait pengaduan itu", jawab Sahrul.
Ketika disinggung soal tidak adanya pengaduan balik dari PTPN IV apalagi yang dipalsukan adalah tanda-tangan Direktur Produksi, Ahmad Haslan Saragih, dalam Surat Perintah Kerja (SPK) dan Akta Addendum pekerjaan, Sahrul mengatakan bahwa semuanya itu sudah disampaikan dalam berita pemeriksaan Ahmad Haslan Saragih, saat diperiksa di Poldasu.
Terpisah, ketika hal ini dikonfirmasi kepada Ahmad Haslan Saragih melalui ponselnya, ia mengaku kalau dirinya telah diperiksa oleh Poldasu terkait adanya pengaduan Yusuf, pelaksana pekerjaan proyek. "Saya sudah memberikan keterangan beberapa waktu lalu di Poldasu terkait masalah ini. Semuanya sudah saya sampaikan. Sekarang masalahnya sudah ditangani oleh hukum. Kalau mau lebih jelasnya, hubungi saja Kabag Hukum PTPN IV. Dian anti bias menjelaskan masalah ini", jawab Ahmad Haslan.
Saat hasil konfirmasi ini disampaikan kepada Sahrul, ia berjanji untuk mempertemukan dengan Kabag Hukum PTPN IV di hari Selasa (27/09/2016). "Di PTPN IV kan media hanya diperbolehkan bertamu hanya hari Selasa dan Kamis bang. Selasa saja nanti abang datang biar saya pertemukan", ucap Sahrul berjanji.
Tapi ketika ditemui di ruang kerjanya pada Selasa (27/09/2016) sore, Sahrul berkilah dengan mengatakan kalau Kabag Hukum PTPN IV sedang cuti. "Kabag Hukum sedang cuti bang. Dan lagi pula, semua informasi yang akan disampaikan kepada publik, harus melalui Humas. Dan saya sebagai Humas sudah menjelaskan bahwa tidak ada masalah PTPN IV dengan pengadu. Pengaduan itu adalah urusan si pengadu dengan yang diadukannya", ujar Sahrul.
Saat disampaikan kepada Sahrul soal yang mau dikonfirmasi adalah tentang tidak adanya pengaduan yang dilakukan oleh PTPN IV, terutama oleh Ahmad Haslan Saragih, sebagai orang yang tanda-tangannya dipalsukan, dengan enteng Sahrul menjawab kalau tidak ada kerugian PTPN IV dalam pekerjaan itu. "Tidak ada kerugian perusahaan disitu. Lagipula, untuk apa diadukan, yang bersoal itu kan mereka", katanya.
Disinggung soal adanya permainan di dalam PTPN IV terkait proyek pekerjaan yang dikerjakan Yusuf, Sahrul membantahnya. "Memang kerjaan itu diberikan kepada Amru Hasibuan. Kalau memang pekerjaan itu dari adik Dirut, ya saya tidak tahu", kilahnya lagi (rosa)